
Pembelajaran masa kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan papan tulis dan ceramah di depan kelas. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, guru dituntut mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, interaktif, kreatif, dan dekat dengan dunia murid. Menjawab tantangan tersebut, Komunitas Belajar atau Kombel “Ngopi Krimer” melaksanakan kegiatan berbagi praktik baik pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 20 Januari 2026 bertempat di Laboratorium IPA. Sebanyak 30 guru mata pelajaran mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi guru lintas mata pelajaran untuk saling berbagi pengalaman, ide, dan strategi dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya IFP, sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan efektif.
Pelaksanaan kegiatan Kombel “Ngopi Krimer” ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara murid belajar. Oleh karena itu, guru juga perlu terus meningkatkan kemampuan dalam menggunakan perangkat dan media pembelajaran berbasis teknologi. Salah satu perangkat yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran adalah IFP, yaitu layar interaktif yang memungkinkan guru menampilkan materi, menulis langsung pada layar, memutar video, melakukan anotasi, memperbesar gambar, hingga melibatkan murid dalam aktivitas belajar secara lebih aktif.
Meskipun fasilitas teknologi telah tersedia, belum semua guru memaksimalkan penggunaan IFP dalam praktik mengajar sehari-hari. Hal inilah yang mendorong Kombel “Ngopi Krimer” untuk mengadakan kegiatan berbagi praktik baik. Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga melihat langsung contoh penerapan IFP dalam berbagai mata pelajaran.
Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam pemanfaatan IFP, berbagi praktik baik penggunaan media digital, mendorong inovasi pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, serta memperkuat kolaborasi antar guru lintas mata pelajaran. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan guru semakin percaya diri dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran di kelas.
Kegiatan berbagi praktik baik ini menghadirkan beberapa pemateri dari kelompok mata pelajaran yang berbeda. Setiap pemateri menampilkan contoh penggunaan IFP sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing. Hal ini membuat kegiatan terasa menarik karena peserta dapat melihat bahwa IFP tidak hanya cocok digunakan untuk satu mata pelajaran tertentu, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang studi.
Sesi pertama diisi oleh Sudiarto, S.Pd dari Kombel IPA, Matematika, dan TIK dengan materi Sel. Pada sesi ini, pemateri menunjukkan bagaimana IFP dapat digunakan untuk menjelaskan struktur sel secara lebih visual dan interaktif. Gambar struktur sel ditampilkan pada layar, kemudian dijelaskan menggunakan fitur anotasi langsung. Pemateri juga memanfaatkan fitur zoom untuk memperbesar bagian-bagian penting pada gambar sel, sehingga konsep yang sebelumnya sulit dibayangkan menjadi lebih mudah dipahami. Selain itu, video pembelajaran juga ditampilkan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai materi yang disampaikan.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Ranu Febrianto, S.Pd dari Kombel Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan materi Iklan, Slogan, dan Poster. Dalam sesi ini, IFP dimanfaatkan untuk menampilkan contoh iklan digital, menganalisis unsur kebahasaan, serta mengajak peserta memahami pesan yang terdapat dalam iklan, slogan, dan poster. Peserta juga diajak melihat bagaimana fitur tulis dan tampilan multimedia pada IFP dapat digunakan untuk membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan menyenangkan. Melalui contoh tersebut, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang mendorong murid berpikir kritis sekaligus kreatif.
Selanjutnya, Pandji Prasetya, S.Pd dari Kombel SBDP, PJOK, dan BK membagikan praktik baik pemanfaatan IFP dalam materi Sepak Bola. Pada sesi ini, peserta diperlihatkan bagaimana strategi dan formasi permainan sepak bola dapat dijelaskan melalui animasi pergerakan pemain dan analisis video pertandingan. Penggunaan IFP membuat materi PJOK menjadi lebih mudah divisualisasikan, terutama dalam menjelaskan taktik permainan, posisi pemain, serta pola pergerakan di lapangan. Pembelajaran yang biasanya banyak dilakukan di luar kelas juga dapat diperkuat dengan penjelasan visual di dalam kelas.
Sesi terakhir diisi oleh Rudi Irawan, S.Pd.I dari Kombel IPS, PAI, dan PKN dengan materi Zakat. Pemateri menunjukkan bagaimana IFP dapat membantu guru menjelaskan konsep zakat secara lebih terstruktur melalui skema visual, tabel nisab, dan video edukatif. Dengan tampilan yang menarik, materi yang berkaitan dengan perhitungan dan pemahaman konsep dapat disampaikan secara lebih jelas. Peserta juga dapat melihat bahwa teknologi digital dapat membantu pembelajaran agama menjadi lebih kontekstual dan mudah dipahami murid.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif mengikuti setiap sesi. Diskusi dan tanya jawab berjalan dengan baik. Guru dari berbagai mata pelajaran saling bertukar ide tentang cara memanfaatkan IFP di kelas masing-masing. Suasana kegiatan terasa hidup karena setiap pemateri tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga menunjukkan praktik nyata yang dapat langsung diterapkan dalam pembelajaran.
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa guru semakin memahami fitur-fitur utama IFP serta cara menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, muncul berbagai ide kreatif untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi. Guru juga menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan perangkat digital sebagai bagian dari strategi mengajar.
Kegiatan Kombel “Ngopi Krimer” ini memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Pemanfaatan IFP diharapkan mampu mewujudkan proses belajar yang lebih interaktif, partisipatif, dan menyenangkan bagi murid. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat budaya refleksi, kolaborasi, dan inovasi di kalangan guru.
Melalui kegiatan ini, Kombel “Ngopi Krimer” membuktikan bahwa peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan melalui ruang belajar sederhana, tetapi bermakna. Dengan semangat berbagi dan berkolaborasi, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penggerak perubahan dalam pembelajaran. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, disertai pendampingan lanjutan agar penggunaan IFP di kelas semakin optimal.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium IPA ini menjadi langkah nyata dalam membangun budaya belajar bagi guru. Dari ruang komunitas belajar, lahir semangat baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih modern, kreatif, dan berpihak pada kebutuhan murid.
Penulis : Rizky Sutiadi, S.Pd.
