SMPN 2 Sijuk Selenggarakan Pelatihan Integrasi Literasi, Numerasi, dan Teknologi dalam Asesmen Pembelajaran

Semangat peningkatan kualitas pembelajaran kembali menggema di SMP Negeri 2 Sijuk. Pada hari Sabtu, 15 November 2025, sebanyak 40 guru mengikuti kegiatan Pelatihan Integrasi Literasi, Numerasi, dan Teknologi dalam Asesmen Pembelajaran yang dilaksanakan di Laboratorium IPA. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yaitu Ibu Minarti sebagai narasumber Literasi dan Bapak Achmad Komara sebagai narasumber Numerasi.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka, terutama dalam hal asesmen pembelajaran yang berpihak pada siswa. Seiring berkembangnya teknologi, guru dituntut mampu memadukan kemampuan literasi, numerasi, dan kecakapan digital untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan siswa.

Pembukaan: Semangat Kolaborasi untuk Pembelajaran Bermutu

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan sambutan dari Kepala SMPN 2 Sijuk, Ibu Yuliana Rita Ana Trihastuti, SP, M.Pd. , yang menegaskan bahwa asesmen bukan sekadar memberikan nilai, tetapi sebuah proses penting untuk memahami perkembangan belajar siswa. Beliau juga mengajak seluruh guru membuka diri terhadap inovasi.

“Literasi, numerasi, dan teknologi bukan kompetensi tambahan, tetapi keterampilan dasar abad 21 yang harus melekat dalam diri pendidik. Melalui ini, kita belajar bagaimana asesmen bisa menjadi alat pembelajaran, bukan sekadar alat pengukur angka,” ujarnya dalam Beragam.

Sesi Literasi: Belajar Memahami, Bukan Sekadar Membaca

Sesi pertama disampaikan oleh Ibu Minarti , narasumber literasi yang telah berpengalaman mendampingi sekolah-sekolah dalam meningkatkan budaya literasi. Ia menjelaskan bahwa literasi dalam Kurikulum Merdeka tidak hanya berkaitan dengan membaca teks yang panjang, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengomunikasikan ide secara efektif.

Beliau mengajak guru untuk melihat asesmen literasi dari kacamata yang lebih luas. Guru tidak hanya mengajarkan apa isi bacaan, tetapi juga mengajak siswa untuk mengajarkan, mengajar, dan menghubungkan bacaan dengan kehidupan nyata.

“Anak-anak kita hidup di era banjir informasi. Mereka tidak cukup hanya bisa membaca, tetapi harus mampu memilah, memahami, dan menggunakan informasi secara bijak. Itulah mengapa asesmen literasi sangat penting,” jelas Minarti.

Para guru kemudian diajak menanamkan membuat soal literasi asesmen yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dengan menggunakan konteks lokal Belitung. Banyak ide menarik bermunculan, mulai dari analisis cerita rakyat Belitung hingga membaca grafik data pariwisata daerah.

Sesi Numerasi: Mengubah Angka Menjadi Makna

Setelah istirahat, sesi berikutnya dilanjutkan oleh Achmad Komara , narasumber numerasi. Beliau menegaskan bahwa numerasi bukan hanya soal menghitung, tetapi kemampuan menggunakan angka dalam kehidupan sehari-hari untuk mengambil keputusan.

“Numerasi tidak terpisahkan dari kehidupan. Ketika anak membaca grafik, tabel, peta, atau data dalam bentuk visual, itu bagian dari numerasi. Guru semua mata pelajaran bisa mengintegrasikannya,” terang Achmad.

Dalam sesi ini, guru mengajarkan cara membuat asesmen numerasi yang kontekstual. Pak Achmad memberikan contoh penggunaan grafik pertumbuhan mangrove Belitung, data cuaca, dan perhitungan sederhana berdasarkan aktivitas sehari-hari siswa. Guru juga diajak membuat soal numerasi sederhana berbasis infografis menggunakan aplikasi digital.

Integrasi Teknologi: Asesmen yang Lebih Menarik dan Interaktif

Bagian akhir pelatihan fokus pada integrasi teknologi dalam asesmen. Guru memperkenalkan berbagai platform digital seperti Google Form, Quizizz, Wordwall, Canva Education, dan platform AI yang dapat membantu membuat soal lebih menarik dan interaktif. Selain itu, guru menanamkan cara membuat analisis asesmen otomatis berbasis teknologi agar hasil belajar siswa lebih mudah dipetakan.

Peserta sangat antusias mencoba fitur-fitur teknologi yang ditampilkan. Banyak guru merasakan manfaat besar karena asesmen digital dapat dilakukan dengan lebih cepat, rapi, dan menarik bagi siswa.

Penutup: Menuju Sekolah yang Adaptif dan Berdaya Saing

Pelatihan ini ditutup dengan refleksi bersama. Guru mengaku mendapatkan wawasan baru, terutama mengenai cara menyusun asesmen yang tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SMPN 2 Sijuk semakin memantapkan diri sebagai sekolah yang adaptif dan berdaya saing, siap menghadapi tantangan pendidikan modern.

Spendasi Maju Terus!

Penulis: Rizky Sutiadi, S.Pd.