Guru Berdaya, Sekolah Berbahagia: Workshop Penguatan Kecerdasan Emosional di SMPN 2 Sijuk Hadirkan Energi Baru Pembelajaran Mendalam

Suasana Laboratorium IPA SMPN 2 Sijuk tampak berbeda dari biasanya pada Sabtu pagi. Ruang belajar yang biasanya diisi kegiatan praktikum sains, hari itu berubah menjadi pusat diskusi hangat, refleksi mendalam, serta penguatan kapasitas guru melalui kegiatan Workshop Psikologi bertema “Penguatan Kecerdasan Emosional Guru” . Kegiatan ini menghadirkan narasumber psikolog muda, Indy Cita Aisyah, M.Psi , dan diikuti oleh 40 orang guru dari berbagai mata pelajaran.

Workshop ini menjadi salah satu agenda penting sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan guru menghadapi tantangan pendidikan modern, terutama dalam implementasi Pembelajaran Mendalam dan budaya belajar yang berkesadaran (mindfulness) . Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku belajar siswa, kecerdasan emosional guru dinilai sebagai aspek fundamental untuk membangun kelas yang sehat, dialogis, dan penuh empati.

Dalam berbagai pembuka, pihak penyelenggara menegaskan bahwa penguatan kompetensi sosial-emosional guru bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. “Guru bukan sekedar penyampai materi, namun penuntun jiwa dan karakter. Mereka perlu dibekali kemampuan mengelola emosi agar mampu membimbing siswa dengan lebih bijaksana,” demikian penekanan panitia.

Selama sesi pertama, narasumber Indy Cita Aisyah mengajak peserta memahami kembali konsep dasar kecerdasan emosional. Ia menjelaskan bahwa EQ mencakup kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, empati, motivasi, hingga keterampilan sosial. Melalui teknik pemaparan interaktif, Indy mengajak para guru untuk mengenali pola pikir dan emosi yang sering muncul saat dihadapkan dengan tekanan pekerjaan, perilaku siswa, maupun tuntutan administrasi.

Para peserta tampak antusias mengikuti sesi latihan mindfulness breath , yaitu teknik sederhana untuk melatih kesadaran diri dan mengelola stres. Suasana ruangan seketika menjadi lebih tenang ketika guru diminta menutup mata, menarik napas perlahan, dan menyadari kehadiran diri tanpa menghakimi pikiran yang datang dan pergi. Latihan tersebut dinilai sangat bermanfaat untuk membangun kesiapan emosional sebelum memasuki kelas.

Memasuki sesi diskusi FGD, para guru bagian dalam beberapa kelompok kecil untuk mengidentifikasi tantangan yang mereka hadapi dalam pembelajaran. Beragam topik muncul, mulai dari siswa yang sulit fokus, perbedaan karakter siswa yang signifikan, hingga tekanan waktu dan administrasi. Melalui diskusi kelompok ini, guru saling berbagi pengalaman sekaligus belajar memahami bahwa setiap tantangan dapat dihadapi dengan pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Dalam sesi berikutnya, narasumber memperkenalkan konsep mindfulness dalam pembelajaran mendalam . Guru diajak untuk menghadirkan kesadaran penuh dalam mengajar, mulai dari membuka pelajaran dengan memeriksa emosi, memberikan instruksi yang tenang dan jelas, hingga memberikan umpan balik dengan bahasa yang mendorong semangat belajar. Menurut Indy, pembelajaran mendalam hanya dapat terjadi jika guru hadir dengan pikiran yang jernih, hati yang tenang, dan kesediaan untuk terhubung secara manusiawi dengan siswa.

Selain materi, kegiatan ini juga menghasilkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari setiap peserta. Guru diminta menyusun dua hingga tiga langkah konkret yang akan diterapkan di kelas, seperti melakukan refleksi harian bersama siswa, menerapkan bahasa yang menumbuhkan pola pikir bertumbuh, melakukan jeda sadar sebelum mengelola konflik kelas, hingga menciptakan jurnal emosi sederhana untuk mengendalikan perkembangan siswa.

Kegiatan diakhiri dengan penutupan dan foto bersama. Banyak peserta mengungkapkan bahwa lokakarya ini memberikan perspektif baru tentang makna mengajar. Tidak sedikit guru yang merasa bahwa sesi ini hadir pada waktu yang tepat, di tengah padatnya tugas dan dinamika sekolah.

Dengan selesainya workshop ini, SMPN 2 Sijuk berharap budaya pembelajaran yang berkesadaran, humanis, dan mendalam semakin tumbuh di lingkungan sekolah. Melalui guru yang berdaya secara emosional, diharapkan lahir siswa yang lebih mandiri, percaya diri, serta memiliki kemampuan mengelola dirinya dengan baik—sebuah bekal penting menuju masa depan pendidikan yang lebih bermakna.

Penulis: Rizky Sutiadi, S.Pd