SEKILAS INFO
12-04-2024
  • 1 tahun yang lalu / Selamat Datang Peserta Didik Baru di SMPN 2 Sijuk Tahun Pelajaran 2022/2023, 11 Juli 2022
  • 1 tahun yang lalu / Selamat Atas Kelulusan dan Kenaikan kelas Siswa SMPN 2 SIJUK, 17 Juni 2022
  • 2 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website SMPN 2 Sijuk, 01 Oktober 2021
23
Mar 2022
0
Koneksi antar Materi PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

A. PENGERTIAN

Pendidikan Budi Pekerti berarti pembelajaran tentang batin dan lahir. Pembelajaran batin bersumber pada “Tri Sakti”, yaitu: cipta (pikiran), rasa, dan karsa (kemauan), sedangkan pembelajaran lahir yang akan menghasilkan tenaga/perbuatan.  Pembelajaran budi pekerti adalah pembelajaran jiwa manusia secara holistik. Hasil dari pembelajaran budi pekerti adalah bersatunya budi (gerak pikiran, perasaan, kemauan) sehingga menimbulkan tenaga (pekerti). Kebersihan budi adalah bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang terwujud dalam tajamnya pikiran, halusnya rasa, kuatnya kemauan yang membawa pada kebijaksanaan.”

Gerakan pikiran di artikan kemampuan intelektual murid, perasaan diartikan sikap sosial dan emosi murid dan kemauan di artikan ketrampilan. Selama ini pendidikan di fokuskan hanya pada menggali kemampuan kognitif atau intelektual dan membuat murid memiliki ketrampilan. Padahal pendidikan mengelola emosi dan sosial memiliki hubungan erat dan sangat membantu murid dalam menggali kemampuan intelektual dan kterampilan sehinga mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini sering terjadi pada murid di sekolah, misalnya murid A memiliki kekecerdasan intelektual yang sangat bagus. Namun karena pengelolaan emosi dan sosial yang kurang tepat maka murid A ini tidak bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik . oleh karena itu pendidikan sosial dan emosional sejak dini sangat perlu di ajarkan pada murid terutama di sekolah.

Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab. Hal ini juga di dukung oleh peneliti Daniel Goleman, “kecerdasan intelektual menyumbang 20% kesuksesan hidup manusia, selebihnya sekitar 80% berasal dari kecerdasan emosi dan sosial”. Ini membuktikan bahwa seorang yang sukses tidak hanya memiliki kecerdasan pengetahuan, akan tetapi kecerdasan sosia-emosionalnya juga harus baik.

Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dulakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajran sosial emosional juga berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang berkarakter baik. PSE dapat memberikan keseimbangan pada individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. Pandangan lama menyatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang dapat ditransfer ke otak seperti mesin mekanis. Yang benar adalah, pengetahuan bersifat konstruktif; semua proses pembelajaran bersifat saling berhubungan; emosi menarik perhatian, dan perhatian mendorong terjadinya proses belajar. Pembelajaran sosial-emosional adalah tentang pengalaman apa yang akan dialami siswa, apa yang dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar. Dengan demikian, apakah anak kita memiliki kesadaran diri, apakah mereka memiliki pemahaman kesadaran sosial, apakah mereka mampu mengambil keputusan yang baik dan bertanggung jawab. Baru setelah itu, kita membahas mengenai konteks akademis dan semua keterampilan-keterampilan penting yang kita butuhkan untuk dapat berhasil dalam hidup.

Penerapan pembelajaran sosial dan emosional di sekolah bertujuan :

1. memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)

2. menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)

3. merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)

4. membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi)

5. membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dapat dilakukan dengan 4 cara:

1. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit

2. Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid

3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid

4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.

Pendekatan SEL yang efektif seringkali menggabungkan empat elemen yang diwakili oleh akronim SAFE (https://casel.org/what-is-sel/approaches/):

  1. Sequential/berurutan: Aktivitas yang terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan

  2. Active/aktif: bentuk Pembelajaran Aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru

  3. Focused/fokus: ada unsur pengembangan keterampilan sosial maupun personal

  4. Explicit/eksplisit: tertuju pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional tertentu secara eksplisit.

Pembelajaran sosial emosional dapat diterapkan dalam ekosistem pendidikan dengan ruang lingkup sebagai berikut:

  1. Kegiatan Rutin (Diluar waktu belajar akademik, misalnya: kegiatan ekskul, perayaan hari besar, kegiatan sekolah, apel pagi, kerja bakti, senam bersama, membaca bersama, pelatihan dsb);
  2. Terintegrasi dalam mata pelajaran (Diskusi, penugasan kerja kelompok);

  3. Protokol yaitu Menjadikan suatu budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.

Dalam menumbuhkan dan mengembangkan pembelajaran sosial emosional pada murid, ada 5 kompetensi dasar yang dapat dikembangkan yaitu:

1. Kesadaran diri;

Untuk mencapai pemahaman kesadaran diri dan mampu mengenali emosinya, kita dapat mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness). Salah satunya Teknik STOP adalah salah satu teknik mindfulness yang dapat digunakan untuk mengembalikan diri pada kondisi saat ini dengan kesadaran penuh. STOP yang merupakan akronim dari: Stop/ Berhenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan. Take a deep Breath/ Tarik napas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar. Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan. Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif.

2. Pengelolaan diri;

Kita pernah atau sering mendengar murid-murid mengeluh tentang tugas yang terlalu banyak, bingung menentukan mana tugas yang perlu dikerjakan terlebih dahulu. Kalaupun guru memberikan tugas jauh-jauh hari sebelumnya, mereka tetap mengerjakan tugas itu sehari sebelum hari pengumpulan. Menurut www.psychologytoday.com, melakukan beberapa tugas bersamaan (multitasking) dapat meningkatkan stress dan mengurangi efisiensi serta produktivitas. Mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan membuat pikiran kita beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Tubuh menjadi lelah dan hasil pekerjaan kita cenderung tidak optimal. Dengan banyaknya tugas dan gangguan yang ada di sekeliling kita, kemampuan mengelola fokus menjadi kemampuan yang sangat penting. Kita dapat mengajak dan membiasakan murid untuk mempraktikkan latihan STOP saat ingin mengembalikan fokus pada suatu pekerjaan, setelah kita mengerjakan tugas yang menantang, atau membangun fokus pada suatu pekerjaan baru. Pada saat kita mempraktikkan latihan bernapas dengan sadar, kita sebetulnya sedang mengingatkan tubuh untuk menarik napas secara lebih panjang dan dalam. Karena dalam kondisi tertekan atau stres, kita cenderung menahan energi dalam tubuh terutama pada tubuh bagian atas Apakah Anda ingat reaksi saat kita tercekat dan menahan napas saat terkejut? Pada saat menarik dan membuang napas panjang, kita melepaskan ketegangan dan mengaktifkan saraf parasimpatik sehingga tubuh berada dalam fase “istirahat” dan “mencerna” yang akan meredakan ketegangan, memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah dan mempertajam fokus. Napas yang terkontrol juga mengurangi kecemasan/tingkat stress dengan mengesampingkan respons “lawan, lari, atau diam”. Teknik STOP yang dilakukan secara konsisten juga mendukung kekuatan otak bagian atas (korteks prefrontal) yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran. Otak terlatih untuk berpikir terlebih dahulu, merencanakan respons sehingga memungkinkan perilaku yang penuh perhatian.

3. Kesadaran sosial (Empati);

kesadaran sosial ini kita diharapkan membangun kemampuan untuk menempatkan diri dan melihat perspektif orang lain. Secara spesifik kita akan membahas mengenai keterampilan berempati. Empati merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami serta ikut merasakan perasaan-emosi orang lain sehingga dapat melihat perspektif sudut pandang orang lain. Baru setelah kita mampu melihat dari kaca mata orang lain, kita dapat menghargai dan memahami konteksnya. Apa saja yang mendasari perilaku, sikap dan cara berpikir orang tersebut. Bob dan Megan Tschannen-Moran (2010) menggambarkan empati sebagai sikap menghormati, tidak salah memahami dan mengapresiasi pengalaman orang lain. Keterampilan berempati merupakan keterampilan yang membantu seseorang memiliki hubungan yang hangat dan lebih positif dengan orang lain. Mengapa? Karena empati mengarahkan kita untuk mengurangi fokus hanya ke diri sendiri, melainkan juga belajar merespon orang lain dengan cara yang lebih informatif dan penuh afeksi ke orang lain sehingga lingkungan yang inklusif akan terbentuk. Menanamkan empati dapat dilakukan dengan langkah yang paling sederhana yaitu dengan menaruh perhatian pada perasaan orang lain dengan bertanya: 1. Apa yang dirasakan orang tersebut? 2. Apa yang mungkin akan dia lakukan? 3. Apa yang saya rasakan jika mengalami kejadian yang sama? Setelah menanyakan beberapa hal tersebut sebelum berbicara atau bertindak, meyakini bahwa setiap orang berbeda, dan memberi dukungan pada orang lain meskipun berbeda pandangan akan memungkinkan kita untuk bersikap lebih empati pada orang lain. Empati merupakan keterampilan yang bisa dilatih untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih empati dalam diri kita: • Menaruh perhatian pada perasaan orang lain • Berpikir sebelum berbicara atau bertindak • Meyakini bahwa tidak ada satupun orang di dunia ini yang sama • Menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan.

4. Keterampilan sosial (Resiliensi)

Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai bentuk kerja sama dengan berbagai pihak, baik murid, guru, rekan kerja, orang tua, dan komunitas masyarakat lainnya. Dalam kerja sama untuk mencapai tujuan bersama, sewajarnya kita akan menghadapi perbedaan pendapat dan konflik. Kemampuan kita untuk bekerja sama dan menyelesaikan konflik dengan konstruktif akan membantu kita membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Hubungan yang positif tidak hanya dapat membangun rasa percaya (trust), tetapi diyakini dapat memitigasi stres, melawan penyakit, dan memperpanjang umur seseorang. beberapa keterampilan yang perlu dikembangkan untuk dapat membangun kerja sama: (https://casel.org/sel-framework/): 1. Keterampilan menyampaikan pesan dengan jelas dan mendengarkan secara aktif 2. Keterampilan menyatakan sikap setuju dan tidak setuju dengan sikap saling menghargai 3. Keterampilan mengelola tugas dan peran dalam kelompok ● Bagaimana mengelola peran yang berbeda-beda? Misalnya, siapa yang akan mencatat? Siapa yang akan memastikan kita dapat tetap fokus pada tugas dan tujuan? Siapa yang akan menjaga waktu? Siapa yang akan memastikan kelanjutan diskusi dan dialog? ● Bagaimana mengelola perbedaan atau konflik? Misalnya, jika satu orang melakukan lebih dari bagian pekerjaan mereka? Bagaimana Anda akan memberi respons ketika ada yang sepertinya tidak berkontribusi? ● Bagaimana menentukan indikator keberhasilan pencapaian tujuan bersama? Bagaimana bila muncul konflik dalam kerja sama?

5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (https://casel.org/core-competencies/). Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah kemampuan yang jika secara konsisten dan berkelanjutan ditumbuhkan dan dibiasakan sejak dini, akan memungkinkan seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan lebih berdaya lenting (resilience) dalam menghadapi segala konsekuensi yang harus dihadapi akibat keputusan yang dibuat dalam hidupnya. Kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tidak datang secara alami. Kemampuan ini perlu dengan sengaja ditumbuhkan. Seorang pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan mempertimbangkan semua aspek, alternatif pilihan, berikut konsekuensinya, sebelum kemudian mengambil keputusan. Untuk dapat melakukan hal tersebut seseorang perlu belajar bagaimana: 1. mengevaluasi situasi 2. menganalisis alternatif pilihan mereka, dan 3. mempertimbangkan konsekuensi dari masing-masing pilihan itu terhadap diri mereka sendiri dan orang lain. Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH – Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil). Kerangka sederhana ini akan membantu seseorang memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.

B. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pembelajaran diferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dalam memenuhi kebutuhan belajar murid perlu diadakan pemetaan melalui kondisi sosial dan emosional murid. Murid dikatakan sudah menguasai kompetensi sosial emosional jika sudah memiliki kesadaran diri, mampu mengelola emosi dan foskus, memiliki rasa empati dan keinginan bekerja sama dalam menyelesaikan serta mampu mengambil keputusan deangan rasa tanggung jawab. Proses penguasaan kompetemsi sosial dan emosional dapat kombinasikan dalam proses pembelajaran diferensiasi misalnya: diferensiasi konten, diferensiasi proses maupun diferensiasi produk. Dalam prosesnya nilai peran guru sangat penting dalam menumbuhkan kemampuan sosial emosional melalui pembelajaran diferensiasi untuk mencapat tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan murid yang memiliki profil pelajar pancasila.

C. NILAI DAN PERAN GURU

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional guru di harapkan memiliki nilai sehingga mampu melaksanakan peranya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas dan lingkungan sekolah nilai guru yang dimksud adalah mandiri. Artinya guru harus memacu perubahan peningkatan kapabilitas dirinya tanpa harus menunggu dorongan dari pihak lain. reflektif artinya membuat evaluasi terhadap diri sendiri untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kekuatan atau kelebihan yang ada dalam diri sendiri. Kolaborasi ini adalah bentuk kerja sama yang baik yang harus dibangun oleh guru dengan kepala sekolah, para rekan sejawat, komite sekolah, orang tua murid, bahkan dengan para murid sendiri. Nilai kolaborasi harus dimiliki oleh guru untuk mencapai output yang baik sesuai yang diharapkan bersama. inovatif Guru harus pintar melihat potensi dirinya sendiri dan peluang untuk mendukung ide-ide baru dalam mengembangkan prinsip merdeka belajar pada murid agar tidak ketinggalan zaman. berpihak kepada murid artinya Dalam proses pembelajaran, guru harus tahu apa saja kebutuhan murid dan berusaha membantu mereka untuk menggali potensi mereka masing-masing. Dengan memiliki nilai nilai tersebut guru diharapka dapat melaksanakan peranya yaitu Menjadi Pemimpin Pembelajaran mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid, Menggerakkan Komunitas Praktisi berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Menjadi Coach Bagi Guru Lain mampu merefleksikan hasil pengalamannya sendiri serta guru lain untuk dijadikan poin peningkatan untuk pembelajaran. Mendorong Kolaborasi Antar Guru kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Mewujudkan Kepemimpinan Murid membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah.

D. BUDAYA POSITIF

Membiaskan penerapan budaya positif di sekolah dapat menumbuhkan karakter pada murid secara pribadi maupun dalam hubungan sosial dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Untuk menguatkan dan menanamkan budaya positif pada murid dapat di kombinasikan dengan kompetensi emosional dan sosial (KSE). Murid yang sudah memiliki kesadaran diri, mampu mengelola emosi, memiliki sifat empati pada sesama dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan akan lebih mudah mencerna budaya positif dan menerapkan dalam proses kehidupanya.

E. KESIMPULAN

Filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara mengaitkan pembelajaran sosial emosional dengan pembelajaran diferensiasi, nilai dan peran guru penggerak dan budaya positif. Seorang guru penggerak, dituntut memiliki nilai kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak pada murid. Dengan nilai tersebut guru mampu menuntun murid mengeluarakan dan mengembangkan potensi dalam dirinya sesuai dengan kodarat alam dan kodrat zaman sesuai dengan tujuan pendidikan yang di inginkan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam proses itu guru hendaknya sudah menguasai dan mampu mengamalkan Kompetensi Sosial dan Emosional dalam dirinya dan dalam lingkungan sekolah sehingga kompetensi tersebut dapat di terapkan dan di tanamkan pada murid melalui pembelajaran Sosial Emosional dan Diferensiasi di dalam kelas. Artinya murid diharapkan memiliki kesadaran diri untuk mengelola emosi dan fokus terhadap tujuan, murid juga dituntun membangun hubungan sosial melalui relasi dan memberikan empati terhadap sesama sehingg dalam bersosialisasi murid mampu memnghormati pendapat orang lain dan bertanggung jawab atas keputusan yang di ambil dengan resiko tertentu. Dengan menggali kompetensi sosial dan emosional murid diharapkan memudahkan guru dalam memetakan kebutuhan belajar dan pembelajran diferensiasi dapat terlaksana dengan baik untuk mengeluarkan potensi atau minat yang ada dalam diri murid. Selain dalam pembelajaran, pembiasaan menerapkan Kompetensi Sosial Emosional juga dapat menciptakan budaya positif di kelas maupun di lingkungan sekolah. Seorang murid yang telah memiliki kompetensi Sosial Emosional, mereaka akan menghargai dirinya dan orang lain, mampu membangun relasi dan emapti terhadap orang lain dan bertanggungjawab atas keputusan yang di ambil sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan murid yang memiliki profil pelajar pancasila.

Penulis: Aprizan Wijaya, S.Pd.